Dalam setiap bulan walau tidak teratur ada pertemuan saya dengan para senior. Mereka kebanyakan sudah pensiunan. Baik sebagai tentara, mantan pejabat Negara (menteri), pegawai negeri atau pengusaha, usianya diatas 60 tahun bahkan ada yang 78 tahun.

Pertemuan kami di mana? Saya mengambil sebuah kantor di bilangan Jakarta selatan, kantor kecil hanya isinya meeting room ruang tamu dan 1 office boy.

Tempat ini tempat kami biasa brain storming.

Kelebihan dari para senior itu karena mungkin latar belakangnya yang memang “orang pinter” mereka semua hobby nya baca. Satu tahun bisa puluhan buku mereka baca. Buku berat semua. Buku ebook amazon kindle atau buku import langsung dari amazon hardcover.

Kalau mereka argument filosofis banget. Tidak ada berdebat tidak berbasis pengetahuan. Misalnya tentang ekonomi sosialis yang berujung komunisme, buku karl marx das capital sudah kami perdebatan puluhan kali.

Buku Ekonom ekonom dunia modern sampai yang klasik sudah santapan harian mereka. Sehingga kalau mendengar debat mereka kita bisa kayak anak SD. Bengong saja bisa-bisa. Common sense akal sehat tanpa “knowledge” jadi lucu. Di dalam diskusi jika kita berada di tengah mereka, jangan coba-coba nyeletuk karena pasti di tanya dasar pemikiranya apa?

Contoh diskusi minggu kemarin

Mas, apa pendapat anda tentang ideology Indonesia? Apa ideology bangsa kita sekarang. Demikian pertanyaan di buka ke saya oleh seorang yang paling banyak ilmu ekonominya (menurut saya).

Saya jawab, Pancasila, Bhineka tunggal ika, NKRI dan UUD 45. Kalau di singkat P,B,N,U demikian saya menjawab.

Ini bukan karena saya dari keluarga NU, tapi itu dari dulu ada di benak saya.

Dilanjutkan olehnya, ok kita ambil kata BHINEKA TUNGGAL IKA. Saya mau mengingatkan beda loh Bhineka sebelum kemerdekaan 45 dengan bhineka sekarang.

Saya tanya sekarang kalau ada uang 10 triliun di kas Negara, bagaimana membaginya agar adil? Berdasarkan apa membaginya agar adil?

Berdasar agama? Islam pasti terbesar. Berdasar suku? Jawa pasti terbesar. Berdasar domisili? Pulau jawa yang terbanyak. Dengan cara begini papua ya ngak pernah dapat apa-apa! minoritas di semua sisi. Dimana keadilan kalau begini? Faham kah bernegara itu harus adil? Hanya orang berilmu dalam baru bisa faham adil itu bagaimana. Bukan sekedar adil itu apa. dia melanjutkan..

Lihat saja kekayaan papua dari Freeport. “Membaginya” bingung khan?!! Lalu bagaimana keadilan itu di tegakkan. Bagaimana “equality” di tegakkan.

Jadi, sebelum kemerdekaan tahun 45 gabungnya Indonesia karena “common sorrow” menderita bersama menjadi merekat. Kalau teori matematiknya penjumlahan, gabung itu penjumlahan.

Kalau sudah merdeka maka “equation” atau rumusnya bukan penjumalahan namun “bagi-bagian” atau “share”. Catat, kunci SUKSES KELOLA NEGARA adalah sebelum kemerdekaan “jumlah” setelah kemerdekaan “bagi”.

Beda bhineka tunggal ika nya dengan pra kemerdekaan dengan sekarang kalau begitu!!!. Jadi kita harus difinisi ulang arti bhineka tunggal ika. Karena kita sudah merdeka, difinisi nya harus “beyond” kemerdekaan.

Ideologynya dulu common sorrow sekarang beda. Ini harus di difinisikan lagi cara mensejahterakan rakyat. Sekarang ini ketergantungan dengan impor pangan sudah keterlaluan. Kita sangat tergantung Negara luar, kita tidak di bikin mandiri oleh pemerintah sekarang. Padahal mudah sekali untuk membuat sejahtera itu.

Sejahtera adalah ketika semua kebutuhan dasar sebuah keluarga sudah bisa terpenuhi dan masih terdapat uang sisa di kantong sebagai “disposable income” maka rakyat sejahtera.

Kalau tidak punya uang sisa, uangnya pak-puk habis, rakyat tidak sejahtera, selalu gelisah. Jadi bagaimana mengukur kesejahteraan rakyat? Ukuran sejahtera adalah disposable income di miliki oleh setiap keluarga.

Semua bisa di buat rumus matematisnya. Demikian dia memulai keilmuannya di papan white board. Dasar pertama bagaimana mensejahterakan rakyat. Bagaimana bisa SPP sandang pangan papan terpenuhi dengan cepat.

Salah kalau focus di growth ekonomi seperti sekarang ini terus di gadang-gadang pemerintah, mengapa? Karena caranya hanya pada pertumbuhan GDP nasional bukan KEADILAN dan KESAMAAN.

Bener deh, kebijakannya bisa menimbulkan ketimpangan social jadi kedepannya harus nya focus di “equality” kesamaan kesempatan peluang yang adil dan mudah di capai.

Nah kalau sudah begini saya selalu begong karena sering ngak faham. Pebisnis di paksa memahami tata kelola Negara coba? Walau simple banget logika mudah di terima tetapi memang harus di fahami oleh banyak orang terutama penyelengara Negara.

Jadi saran kita harus bagaimana? Saya bertanya seperti kebiasaan saya.

Difinisi ulang bhineka tunggal ika, difinisi ulang pancasila, panji Negara itu harus di difinisi ulang. Di maknai baru.di urai baru.

Dia melanjutkan, sama seperti impian. Kalau impian kamu sudah tercapai, rekening di bank sudah 10 digit, posisi jabatan baik, keluarga baik, kesehatan baik, maka kamu harus membuat “impian baru” yang lebih powerful lagi.

Kalau tidak kamu “dry out” kering hidup kamu, tidak berwarna tidak colourful, tidak life the live, garing kriuk kata anak sekarang. Filosofi bangsa ini lah yang membedakan bangsa satu dengan bangsa lainnya.

Jangan memulai sesuatu tanpa difinisi arah jelas langkah kedepan mau apa dan pastinya menjadi lebih baik dari yang kemarin, jangan sederhana bernegara itu harus besar, powerful, yang sederhana itu adalah gaya hidup keseharian pejabat negara.jangan di balik, tujuan bernegara sederhana, pejabat, politik, kelompok tertentu yang powerful, pamer, ngak bagi bagi. Teriak lah rakyat.

By:Mardigu WP

Related : DIFINISI ULANG KEBANGSAAN KALAU TIDAK AKAN TERPESONA DENGAN CARA ASING ASENG.