MASIH SALAH LIHAT PETA DEH KAYAKNYA

Kita semua pasti menyadari bahwa resesi ekonomi itu hal yang biasa atau normal dalam bernegara bahkan  selama 75 tahun beragam resesi yang indonesia sudah lewati, namun jujur, efek covid kali ini beda, jangan underestimated!!!!

Dalam informasi oktober 2019 setahun yang lalu, kita sudah menganalisa bahwa tahun 2020 dan 2021 indonesia akan mengalamai pelambatan ekonomi, turun. Analisa ini kita infokan padahal dunia belum ada covid, namun kita sudah mengatakan, ekonomi indonesia di tahun 2020 dan 2021 akan mengalami trend melemah.

Melemah karena orientasi kelola ekonomi negaranya memang tidak pro UKM. Sementara UKM di indonesia itu tulang punggung 97% angkatan kerja. Di sini kita harus menyadari bahwa setiap negara itu beda beda sifat alami ekonominya syangnya kebijakan sejauh ini dari pejabat negara masih belum ke arah UKM. Itu yang menjadi alasan mengapa kita belum kuat ekonominya.

Indonesia yang banyak penduduk, kuat sumber daya alam, menjadikan domestik comsumption kita kuat.

Fakta yang  terjadi hingga saat ini adalah ke jomplangan ekonomi yang besar atau parah antara pengusaha besar oligarki, BUMN dengan UKM sejak jaman presiden suharto yang memang mengikuti maunya kapitalis amerika dan barat yaitu meggunakan trickle down economy dimana atas di siram, ngucur kebawah.

Fokus waktu itu adalah membuat 200 an orang konglomerat yang akan membangun ekonomi mengalir dari atas kebawah. Tujuannya agar Pemerintah gampang pegang kendali ekonominya. Pegang saja para orang kaya ini dengan rapat rutin di tapos, full kendali di bawah pak harto mau kekiri mau kekanan terserah.

Puncak dari kekesalan rakyat di tekan adalah people power bergerak menjungkalkan rezim otoriter 32 tahun tersebut. Setelah itu pasar menjadi bebas, namun entah bagaimana bebasnya hanya sebentar. Ketika UUD di ubah 2002 masuk lagi kapitalis, dengan lahirlah BUMN incorporated jaman bu mega, SBY dan puncaknya pada saat ini.

BUMN jadi agent of changes, BUMN jadi centralized pengerak ekonomi. BUMN mahzab ekonominya sosialis elitis! Apakah itu salah? Tidak juga tetapi meninggalkan UKM itu  yang salah!!!!

Lalu apa yang terjadi, konglomerasi yang sudah 45 tahunnan berdiri sejak jaman pak harto merangsek masuk pegang kendali lagi, mulai mepet kesiapapun pejabat negara. Mereka oligarki ini pegang pasar kanan kapitalis elitis, sisi seberang atas, sosialis elitis di pegang BUMN sejak 20 tahun ini, BUMN pegang pasar kiri.

Sempurna!!!!!

sekarang di beri kekuatan tambahan lagi dengan dua undang undang yang maha dahsyat pengaruhnya untuk para BUMN elitis dan kapitalis elitis, para oligarki dengan UU minerba kemarin yang kewenangan pusat menjadi sangat kuat, juga omnibus law yang menguatkan kekuatan elitis.

Wah ini kekuatan impian banget bagi siapapun penguasa, pejabat dan oligarki. 

Kerena itu di hati kecil banyak yang bertanya, bener nih buat rakyat? Bener nih buat meningkatkan kesejahteraan rakyat? Karena itu saya dari kemarin ragu, sangat ragu bahwa semua ini bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Mau bukti? Bagaimana kalau kita cek, kuartal 3 pasti resisi, pasti minus, lalu kuartal 4 akhir tahun kita tebak tebakan aja. Apa yang terjadi kalau minus juga? Atau kita tambahin, sampai Q1 atau kuartal 1 2021, saya tetap konsisten, masih di zona negatif pertumbuhannya si Q4 2020 dan untuk Q1 saya menebak negatif juga walau peluangnya 50 50.

Jadi, di beri kesempatan omnibus law bergerak  ternyata masih negatif hasilnya, lalu dimana salahnya?

Ini yang kita bingung nasehatin atau ngasih saran, karena sesungguhnya yang salah, adalah cara BACA PETA DUNIANYA. 

Apa peta yang dibaca saat ini dan bagaimana peta tersebut seharusnya? 

Kita coba jelaskan ya. Kita mulai dengan pertanyaan, apa bedanya “great power” dan “super power”? kita lengkapi kalimatnya agar faham. Apa bedanya great power of china dengan negara super power amerika. Saat ini keduanya sedang berperang.

China ingin menjadi negara super power, dengan great powernya. China men challenge amerika, posisinya saat ini. China itu besar dalam transaksi perdagangan, memiliki reserve capital yang besar. Tetapi ingat, china negara komunis otoriter, dimana kata kunci yang harus di perhatikan adalah kata PROPAGANDA. Kuat sekali propaganda mereka tersebut. Di usirnya 3 wartawan wallstreet journal  beberapa bulan lalu karena mengatakan 10 kali lebih besar fakta korban virus corona di tiongkok adalah bentuk otoritarian propaganda mereka.

Sekali lagi, china itu Great power. Beda sama super power? Super power itu TERINTEGRASI. Bukan hanya dagangnya yang besar tetapi hegemoni itu pengaruh. Militernya dengan 800 pangkalan di seluruh dunia, bayangkan, negara di dunia itu 192, pangkalan milietr amerika ada 800 di seluruh dunia.

Lalu menguasai sistem moneter keuangan dunia karena dolar menguasai 60% transaksi perdagangan dunia, 30% euro, lalu yen, yuan china hanya 1.7% saja. Inget ya yuan hanya 1,7% dan posisinya surplus terhadap indonesia. Surplus itu kalau buat mengadakan transaksi bilateral, yang surpkus yang untung. Jadi dalam yuan dan rupiah nanti siapa yang untung teramat sangat? Wis jawab en dewe ya.

Sistem ekonomi yang di namakan “global supply chain” di kuasi globalis cabal.

Misalnya saat ini dunia otomotif di indonesia. Part mobil tersebut ada yang dari costarica, rumania, thailand, dan belasan negara lainnya. Dengan di buat shut downnya  efek covdi yang bergantian, ekonomi dunia menjadi tidak bisa di tebak. Inilah mengapa kita menyebutnya economic warfare, sitausi ekonomi dalam keadaan ketidak pastian ( perang).

Karena pertumbuhan di china supply demand sedang “serang” oleh amerika maka strategi supaya china tetap bisa survive bagaimana?

China punya reserve currency dolar mulai menipis. Karena itu tiongkok akan pakai proxy agar dapat dolar dan yuannya yang over supply terpakai. Misalnya china ke indonesia, invest FDI, foreign direct investment dan ingat FDI asing itu di otak mereka adalah bagaimana mendapatkan dolar. Produknya kalau bisa ya untuk ekpor, keluar dari negara  produsen untuk ekpor untuk dapat dolar.

Tapi tiongkok pintar, yang dari indonesia di beli dulu pakai yuan, baru penyerahan atau delivery produk ke manca negara tiongkok akan menerima dolar. Tetap saja tiongkok perlu dolar.

Sekedar pengingat, kerjasama jual belinya pakai yuan, tetapi produk yang nanti di beli china pakai yuan adalah barang yang tiongkok akan jual lagi menghasilkan dolar!!!

Amerika diam saja?  Ya enggak lah. Yang amerika lakukan agar investasi direct tiongkok tadi tidak menghasilkan dolar bagaimana? 

Negara yang menjadi “konco” temannya tiongkok yang terima yuan  di coret statusnya dari negara berkembang menjadi negera maju. Jadi mulai mengerti mengapa indonesia di keluarkan dari negara berkembang jadi negara maju? 

Kalau negera berkembang ekpor ke amerika pajaknya murah, katakan 5% pajak masuk ke amerikanya. Kalau negara maju, ya pajaknya 20%.

Kita indonesia yang jadi serba salah jadinya sekarang. Sok genit dengan china ternyata ngak dapat banyak manfaat, buktinya  sudah 6 tahun di peres peres susunya seperti sapi tapi ngak di kawin kawin. 

Dengan amerika sok genit genitan mau ajak balikan. Tetapi sekarang amerika lihat indonesia ngak seksi lagi, barang bekas tiongkok. Indonesia kayak mantan minta balikan, karena pas diputusin  kok nambah keren mantannya. Indonesia bingung jadinya, di harap di kawin tiongkok ternyata di peres peres doang.

Ke geeran indonesia nya merasa seksi, punya sumber alam bagus.bener SDA nya bagus yang gak bagus “genitnya dan ganjennya”. Amerika sudah pacaran sekarang sama thailand, vietnam, kamboja, laos, myanmar dan India. Jadi kita bagaimana? Di grepe grepe terus dah sama tiongkok kitanya mau lagi, heran gue?!!!

Ok kita mau bertanya sekarang solusinya kedepan wahai pajabat negara? 

Omnibus law kah solusinya? Ekonomi kita itu kalau salah terus baca petanya, actionya bisa salah terus juga. Ekonomi bisa tekor terus terusan dan bisa bisa membawa kemiskinan. kata Umar bin khatab, kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Ayo mana solusinya? Pokoknya jangan si bossman yang sontoloyo ini di tanya. Takut di kira ngeledek. Saya mah pedagang kecil pak, pengen sehat dan damai di NKRInya.

Related : Mengelolah BUMN.