Sahabat semua, cara cerdas bernegara, satu setengah tahun yang lalu. Karena saya yakin, sahabat tidak sempat mengikutinya karena kita baru kenalan, anda baru gabung sebagai teman sosmed dengan si bossman. Bagi yang hanya nonton beberapa video terakhir misalnya ya nggak faham blas apa dan siapa isi serial cara cerdas bernegara ini.

Lalu seperti kebiasaan orang yang tidak suka baca : langsung ambil kesimpulan, bossman anti pemerintah. Anti tiongkok, anti kebijakan bernegara saat ini. bossman kerjanya ancuk ancukin pejabat dan misu misu, jawa timurannya ngak sopan!


Secara pribadi, saya ini anti Kiyosaki. Saya anti untuk menjadi kaya itu harus berbisnis. Walau saya ini pebisnis murni, tetapi 10 tahun awal karir saya adalah pegawai, yang sangat bermanfaat kelimuannya hingga saat ini saya pakai yang saya selalu bersyukur karena tanpa melewati periode tersebut saya beda “cara pandang”nya.

Oiya, maaf banget, ya aslinya bossman itu mengatakan ancuk ancukan ya memang gitu kalau anda faham budaya jawa timuran, hal seperti itu bahasa biasa aja. Tapi kalau anda dari jawa tengah aja, atau seperti pejabat sekarang yang santun, jawa timuran itu kesannya kurang ajar. Kembali ke pertanyaan anti pejabat, jawabnya? iya saya anti komunis tiongkok. Anti bumn tiongkok, namun tidak anti dengan swasta tiongkok, dan tidak anti dagang bebas atau fair trade dengan negara manapun. Dan saya pendukung UKM bottom of pyramid anti negara berbisnis, anti BUMN di bawah kementrian. Kembali ke serial cara cerdas bernegara maka ini semua adalah pelajaran lemhanas di populerkan. 

Sahabat tidak perlu baca banyak buku, atau ikut sekolah tersebut kalau memang belum mau jadi pejabat namun memahami bela negara adalah HAK SETIAP WARGA NEGARA. Maka pelajaran awal dari pemahaman bela negara adalah memahami apa itu NATION. Apa itu negara!!! Ingat negara bukan pemerintah. Negara NKRI itu bukan milik PEJABAT NEGARA atau seenaknya mengelola negara atas nama pemerintah yang memenangi PEMILU. Negara punya rakyat indonesia, negara bukan punya pemerintah yang 5 tahunan bergantian mengelola. Kita semua tahu, bangsa indonesia lahir  terlebih dahulu jauh sebelum negara NKRI berdiri. Yaitu ketika sumpah pemuda 1928. 

Barulah negara NKRI berdiri tahun 1945. Dan pemerintahan? Ya periode sekarang periode pak jokowi. Itu pemerintah. Karena itu segala hal mengenai kebijakan kalau merugikan atau ada kecenderungan merugikan negara, kita ingatkan. Dan itu HAK SETIAP WARGA NEGARA. Caranya ada demo teriak teriak, ada lewat udara ala bossman. Kalau warga negara punya HAK, maka NATION, negara juga punya HAK. Hak tersebut di sebut NATION RIGHT!!!.

Nation right lebih tinggi dari HUMAN RIGHT. Hal ini sering disalah artikan dan bisa disalah gunakan oleh PEMERINTAHAN yang otoritarian atau cendereng menggunakan kekuatan hukum untuk MENGHUKUM hal yang tidak sesuai dengan MAU nya kebijakan pemerintahan. Tipis memang kekuatan demokrasi terpimpin pancasila dengan demokrasi ala barat dengan bernegara otoritarian yang kebanyakan adalah komunis atau demokrasi yang di plintir ala negara masing masing. Singapura gitu gitu bukan negara demokrasi 100% ala barat, singapura punya gaya pemerintahan sendiri, gak boleh beda dengan pejabat penguasa. Mana ada yang berani teriak beda di singapura? Malaysia, sama juga tipis tipis dengan singapura. Sekali lagi, tidak ada yang sempurna namun pemerintahan adalah kesepakan kesepakatan yang berlaku di sepakati oleh pengelola negara masing masing.

Philipina karena duterte nya yang koboi. Lain lagi kelola negaranya. Demokrasi ala philipina ini seru, apa apa buat referendum. Misalnya duterte tanya, narkoba boleh saya tembak di tempat. Referemdum ternyata 80% setuju. Ya dia dor 15.000 orang lebih kasusu narkoba, dan bening sekarang narkoba di philipina. Apa itu melanggar HAM? Duterte bilang saya pegang mandat 80% suara referendeum setuju. Sikaaaattt, mati aja luh main main narkoba !!!.

Negara komunis vietnam, komunis tiongkok dan komunis korea utara, beda lagi kelolaan negaranya, namun cirinya satu OTORITARIAN. Saat ini entah bagaimana komunis pemahamannya TIDAK MENAKUTKAN LAGI. Di sisi lain, komunis yang di fahami oposisi saat ini yang sering bengok bengok di media dengan niat perhatian politik adalah masih komunisme ala cold war, jadi kasihan juga kalau banyak melihat mereka mereka mendebatkan komunisnya, apa lagi pakai kata PKI.

Komunisnya sudah mutan, ganti baju, dan lebih “soft power”, pengkritik yang anti komunis masih lihat komunis seperti jaman perang dingin soviet amerika, pakai hard power. Beda bung, komunis sekarang soft, pakai merubah kebijakan negara yang mau ditarget dan pakai “orang dalam”. Beda perangnya. Main cantiklah, jangan teriak model tahun 60, 70 an jaman james bond cold war.

Yang pejabat sekarang podo ngak faham, karena itu “kena jebakan” dimainkan soft power. Lucu ya, yang mengkritik salah ilmu ketinggal jaman yang di kritik sama ngak fahamnya kerena kesumpel cuan. Karena itu terlihat ngak nyambung kalau ngomong di media massa mainstream yang memang bukan cari solusi tetapi cari sensasi, yang satu teriak PKI, yang satu kerja sama dengan negara komunis sebagai BUSINESS AS USUAL.

Ini semua tidak akan terjadi kalau faham APA ITU NATION THREAT!!!. Jadi apa itu ancaman bernegara? Kita tanya pejabat sekarang yuk. Itu perusahaan asing BUMN tiongkok mengeduk tambang Sumber daya alam sulawesi masuk ancamam nasional apa tidak?

Hutang negara setiap tahun naik itu nation threat bukan? Impr yang tidak bisa terselesaikan selama 7 tahun naik terus itu nation threat bukan? Kalau bukan ya lanjutkan. Kalau ancaman mana solusinya?

Ngomong ngomong, adakah lembaga negara menentukan “ancaman” saat ini ya di indonesia? Kok ngak ada suaranya? Apa emang gak ada dan tidak punya kemampuan bernegara?

By: Mardigu

Related : CARA MELIHAT ANCAMAN DALAM BERNEGARA.