Uang beredar saat ini hanya 44% dari GDP nasional dan ini bahaya dari  kacamata orang yang mengerti ekonomi makro di indonesia.

Maaf informasi seperti ini memang terlihat nyinyir kepada mentri jagoan yang berprestasi internasional namun entah mengapa mungkin karena ngak banyak yang faham ilmu ekonomi maka melihat data serta melihat gerak ekonomi bernegara saat ini ya jadi terlihat biasa saja.

Padahal kalau melihat dari indikator ekonomi seperti di awal tadi yang mendapatkan data bahwa uang beredar saat ini hanya 44% dari GDP nasional ini artinya banyak sektor ekonomi yang sakit keras, kronis.

Sayangnya data seperti begini, yaitu yang 44% uang beredar ngak banyak faham cara bacanya, bahwa ini berbahaya bagi ekonomi sebuah negara.

Malaysia, philipina, thailand 120% an uang beredar di banding GDP nasionalnya. Ini sama sama  kena covid loh ya negaranya. Negara negara di asean ini dalam 7 tahun terakhir pertumbuhan ekonominya adalah 50% an di bandingkan pejabat saat ini yang hanya bisa membuat 20% tumbuh dalam 7 tahun.

Padahal niat dan janji sucinya (dulu), 50% an tumbuhnya dalam 7 tahun, karena setiap tahun kalau ekonomi tumbuh 7% semua tercapai tumbuh 50% an saat ini HARUSNYA. Ternyata tidak tercapai.

Untuk menutupi kegagalan tersebut maka strategi yang di lakukan oleh yang katanya jago ekonomi dan keuangan negara menggunakan FDI foreign direct investment.

Ok, boleh lah strateginya, sekedar mengingtakan dimana nanti para new mind beda strateginya, pakai DDI domestic direct investment, pakai kekuatan kita sendiri,dalam negeri, anak bangsa. Saat ini oleh old mind, anak bangsa, kekuatan sendiri tidak di percaya. Bahkan 4L sering mengatakan itu. Indonesia belum mampu, jadi perlu orang tiongkok.

Heran ya, kok anak bangsa di ejek tapi oleh fans nya ngak ada yang mencela atau kecewa. Oh lupa punya pasukan buzzerp yang selalu meluruskan hal bengkok dengan narasi.

Bener deh, sangat jelas kalau strategi sekarang adalah CINTA ASING, karena itu di pilih investasi FDI. Oke lah,namanya juga keputusan orang populer, semua di lakukan terlihat benar lah sampai suatu hari piring kalian kosong ngak ada lauk yangbisa di makan. Baru anda percaya ada masalah berengara ekonominya.

Tapi kita warga negara yang baik. Kita ok setuju FDI. Coba sekarang kita kalkulasi stargei FDI itu. Setelah kita hitung FDI dana masuk di bagi jumlah penduduk ternyata indonesia HANYA dapat 100 dolar perorang FDI nya, bandingkan singapur tahun lalu FDI masuk ke singapura adalah 19,000 dolar per orangnya.

Jauh, jauh langit dan bumi. FDI indonesia di banding singapura!!!

Ok, kita samakan dengan vietnam bagaimana biar ngak ilang muka tuh pejabatnya yang sering dapat hadiah dari negara pemberi hutangan. Vietnam 270 dolar perorangnya dari FDI tahun lalu, 2020.

Malaysia, philipina sama dengan indonesia 100 dolar. Seneng? Tahu kalau philipina dan malaysia sama dengan indonesia, senang?

Harusnya ngak senang, old mind senag, new minf mah kagak senag. Indonesia itu  punya segalanya yang malaysia dan philipina ngak punya kok hanya 100 dolar. Lalu apa strateginya. Ya kembali ke klasik karena old mind bisanya itu, HUTANG LAGI!!!

Ok mau lihat dari kacamata mana lagi indikator ekonominya?

Bagaimana kalau kita lihat pertumbuhan kredit. Tiap tahun harusnya kredit di salurkan itu tumbuh 15% di banding tahun sebelumnya, dimana 15% itu akan menumbuhkan 7% an ekonomi.

Namun beberapa tahun belakangan ini, kredit hanya 2-3% saja, ya bagaimana ekonomi mau tumbuh 7% orang tidak ada likuiditas begitu. 

Jadi wajar khan tumbuhnya tahun lalu minus 2% lalu kita lihat sudah hampir 4 kuartal minus terus pertumbuhan, kita lihat yang awal tahun 2021 ini deh. minus apa plus?

Kalau minus, jadi bisa 4 kali, 4 kuartal. Ini menunjukan kinerja ekonomi negatif. Bahaya ini kalau rakyat mulai lapar. Tapi bagus banget narasi para buzzerp nya sehingga rakyat ngak sadar ekonomi ke arah bahaya.

Asli nih, kalau ternyata sampai akhir 2021 rakyat makin berat ekonominya, maka bisa bisa pejabat populer jadi ngak populer, dan jangan sampai nengok semua ke bossman karena semua di katakan bossman jadi terlihat benar.

Bentar dulu, ngak bener juga bossman ini semua analisanya, namun kalau utak ataik itungan ekonomi jarang meleset.

Lalu kalau ternyata akhir tahun 2021 ekonomi masih minus, apa sarannya untuk mengatasi hal ini?

Maka kaum new mind akan berkata, gampang, tahun 2022 pemilu di percepat aja, ngak usah nunggu 2024. Piye jal? 

Related : KALAU TERNYATA EKONOMI TIDAK TUMBUH DAN KEDAULATAN BERNEGARA RAPUH, APA YANG KITA HARUS LAKUKAN? .