Covid itu pandemi biasa atau wartool? Hal ini merupakan pertanyaan mendasar sehingga jawaban dari pertanyaan tersebut sesungguhnya tercermin dengan tindakan apa yang di ambil oleh  para pejabat.

Lalu kita bertanya lagi. Apa yang terjadi ketika vaccine sudah mencapai 70% populasi yang seharusnya sudah tercapai herd imunity atau kekebalan kelompok lalu muncul mutasi strain virus baru lagi?

Berdasar data kecepatan melakukan vaksinasi covid indonesia sudah cepat di tengah gelombang terpaparnya juga tinggi sehingga tadinya kalau 250.000 vaksinasi perhari, indonesia mencapai herd imunitas 3 tahunan lagi.

Saat ini di percepat berdasar informasi bisa 1 juta suntik vaksin perhari walau data ini masih di ragukan karena kalau satu tenaga kesehatan menyuntik 100 orang perhari ada 10.000 nakes yang bekerja, namun kita naggap informasi ini benar dulu. Maka dalam 1,5 tahun lagi atau akhir 2022 herd imunitas tercapai, maka kita menang melawan covid.

Pertanyaan liar, apa yang terjadi kalau mutasi lain lagi datang ? lalu kita kejar kejaran dengan vaksin jenis baru lagi. Kalau saat ini kita anggap serangan gelombang ke dua, apa yang terjadi kalau ada strain jenis baru yang mungkin bisa membuat gelombang ke3 di tahun depan?

Melihat cara penanganan pemerintah atas covid yang merupakan virus impor dan pcr antigen juga produk impor kebanyakan dan masker terbanyak barang impor bahkan di suruh dua lapis lagi sekarang pakainya, lalu vaksin juga produk impor.

Apakah ngak kita balik sebaiknya, inilah masa di mana produk lokal misalnya masker harusnya merupakan 90% masker yang beredar di indonesia, antigen tes lokal 100%, vaksin lokal 50% atau obat peningkat imunitas di genjot. 

Agar kalau virus mutan lagi, kita ngak terus bergantung impor, yang akan membuat ekonomi negara di gerogoti uang keluar. Sudah uang beredar kecil di tanah air, uang tadi terus di tarik keluar dengan berbagai kebutuhan impor dan tunai di tanah air harus hidup dengan pinjaman dolar asing dan yuan.

Rupiah kok jadi ngak berdaulat? Pastinya karena kebijakan yang terlalu impor, walau bisa terlihat benar karena semua  dalam keadaan darurat. Lalu, kalau bernegara daruratnya berkepanjangan ini sebenernya bisa ngak masuk kategori salah kelola? Atau missmanajemen?

Lebaran 2020 kita ngak boleh mudik eh pulang kampung, lalu 2021 berlaku lagi ngak boleh mudik lagi, ok lah kita manut, walau ada beberapa orang ngak tahan melakukan pulang kampung yang katanya merekalah penyebab meledaknya gelombang kedua paparan covid sekarang, ok lah, argumen itu di terima.

Tetapi...kalau 2022 masih lagi, ini yang namanya ngak bisa kelola, setuju ngak kalau hal itu di sematkan?

Kembali ke pertanyaan di awal, kita bisa simpulkan dari pertanyaan pertama oleh pemerintah saat ini covid adalah pendemi biasa bukan wartool atau senjata perang biologi.

Menjawab pertanyaan kedua, kalau ada strain 

baru, maka sepertinya ya akan ikut aja atas apa yang terjadi nanti, kumaha engke. Tidak ada antisipasinya yang ada hanyalah mudahan mudahan ngak ada mutasi lagi.

Kalau terjadi berlawanan, ini senjata biologi dan strain baru mutasi baru ada lagi yang membuat harus vaksin baru lagi, kita tergopoh gopoh lagi ya gitu deh, solusinya pasti tinggal bangun narasi, pasukan buzzerp kerja keras lagi.

Nah, di posisi begini, kasihan mereka yang mau jadi presiden 2024 sementara mereka dalam posisi menjabat yang ternyata salah semua pengelolaan pandemi dan ekonominya? Pasti kena imbas negatifnya. Karena mereka juga bagian dari ketidak tepatan kelola pemerintahan pusat atau daerah.

Karena yang di gadang gadang 2024 kebanyakan pejabat incumben. 

Di sini enaknya jadi yang bukan pejabat tetapi selalu memberikan solusi, bahkan bukan hanya solusi juga sarannya  di kerjakan walau dengan skala tanpa fasilitas. Bisa jadi kuda hitam 2024 ngak kira kira ya?

Tetapi mudah mudahan prediksi ini salah, ekonomi membaik, covid teratasi tahun ini, amin! Cuma takut aja prediksi ini bener, masak tinggal bossman calon 2024 ya ngak mungkin toh, harus bisa 3 kali menjabat. Dukung!!! #peace #dinaran

Related : APAPUN HASILNYA DUKUNG.