Jahatnya globalis cabal dengan virus dan vaccine masih banyak yang belum sadar juga padahal sudah satu setengah tahun menghajar dunia. Kalau masyarakat awam wajar mereka tidak faham karena itu mereka memang di arahklan selalu jadi korban, baik oleh pejabat ataupun media mainstream.

Tetapi ada pejabat yang faham namun malah memlih menjadi agen globalis cabal, ini yang keterlaluan. Tapi, banyak juga pejabat  yang ngak faham bahwa selama 1,5 tahun ini dunia masuk kategori perang, perang biologi, namun tetap merasa saat ini adalah masa BUSINESS AS USUAL, normal normal aja.

Jadi kita mundur sebentar, 2014 masuk periode pemimpin baru di indonesia, waktu itu masa normal. Kemudian 2016 mulai masuk masa perang dagang. Amerika tiongkok. Disini mulai terlihat bahwa banyak pejabat gagap.

Hingga selama 2016 – 2020 mengelola negara bukan pakai MODE WAR TIME tetapi pakai seperti masa normal hal ini membuat indonesia tertinggal. Tetapi masyarakat banyak memang ngak gagal faham kesalahan melihat dunia berefek inonesia jalan di tempat.

Buktinya GDP perkapita hanya naik 15% dalam peiode perang dagang tersebut. Hanya dari 3.800 an ke 4000 an dolar perkapita.

Ini harusnya dilihat sebagai “ kurang berhasil” membuat indonesia berdaulat ekonominya. 

Karenqa, salah lihat peta dunia, world maps!!

Lalu berlanjut di tahun 2020 adalah perang biologi dunia atau dunia kena pandemi virus buatan bernama corona.

Perang ini bisa panjang bisa pendek di setiap wilayah tergantung pejabat suatu negara ber strategi mengelola negaranya. Kalau mau cepat, ada strategi bernegara yang  MEMILIH ikuti maunya globalis, beli vaccine mereka. 

Ada yang tidak mengikuti produk globalis vacine nya tetapi pakai imunitas, atau imunotherapi, pakai penguatan imunitas. Penguatan imunitas tubuh sangat berlawanan dengan maunya globalis cabal.

Negara yang di bawah pengaruh globalis pasti 

menghalangi terapi imunitas. Termasuk tidak mengizin atau mempromosikan biomedical yang pakai jamu jamuan, herbal, stem cell, seceretum, multivitamin dan lain sebagainya. Harus vaccine,  wajib vaccine, prduk asing lagi!

Amerika, rusia, india, tiongkok, semua terbanyak pakai produk mereka sendiri. Mau itu vaccine atau biomedical peningkat imunitas, Jadi, ini fakta.

Strategi keluar dan menang dari covid, kiota bisa menghitung dari data lapangan dimana kalau 70% populasi, sudah memiliki kekebalan tubuh atau imunitas maka dikatakan di wilayah tersebut HERD IMUNITY tercapai. Ketika her imunity tercapai maka virus corona bisa terkendalikan dan musnah.

Cara mencapainya adalah dengan sesegera mungkin di lakukan vakasinasi dan memberikan kekebalan tubuh. 

Denghan strategi yang dijalankan setiap negara berbeda maka akan di dapat fakta pencapaian herd imunity indonbesi 4.5 tahun lagi, dengan kecepatan 

250.000 vaccine perhari yang dilakukan pada saat ini dan 400 juta stok vaccine yang akan di sediakan.

Ini waktu yang lama, masak anak kita sekolah masih di gadget sampai 2 tahun kedepan sih, waduh!!!!

Tetapi bagaimana? Lah berbgantung banget sama produk asing sih, coba yang namanya nusantara, merah putih dan lain sebagainya di kategorikan SOLUSI, pasti 2 tahun kedepan herd imunity tercapai, sehingga di beberapa wilayah per juli ini bisa sekolah normal misalnya anak anak.

Bukan sampai 4 tahun hidup di gadget!!!

Kita bandingkan sejak 6 bulan lalu, amerika dengan 1, 8 juta vaccine dan berbagai imunotherapy per hari maka dalam 5 bulan lagi herd imunity di amerika tercapai.

Tiongkok lebih dulu lagi, sejak 9 bulan yang lalu sudah dengan kecepatan 15 juta perhari, 4 bulan lagi atau sekitar bulan  september herd iminitas tercapai.  India bahkan dengan kecepatan  2 – 3 juta per hari, di perkirakan 2,5 tahun lagi herd iminitas tercapai.

Kalau indonesia masih 4,5 tahun lagi ini gawat. Bisa ngak berhaji sampai 4 tahun ke depan, ya ini miss management kelolaan bernegaranya. Di tambah bisa sekolah dari gadget sampai 4 tahun kdepan, waduh bisa HILANG KETRAMPILAN SOSIAL ANAK ANAK generasi Z, zilenial!!! yang saat ini usianya 20 tahun kebawah. Jangan begitulah mengelola negara wahai pejabat.

Related : GLOBALIS BERDAULAT.