Kok bisa segerombolan rebel atau pemberontak di bawah organisasi Taliban mengalahkan 10,000 tentara Amerika well equipped bersenjata super lengkap? Juga ada 300.000 tentara pemerintah Afghanistan yang dibiayai Amerika lebih 1 triliun dolar atau 8 kali APBN Indonesia , diam tak berkutik dengan Taliban?

Atau memang ada tangan lain yang ingin mempermalukan Biden dan mengecilkan amerika di bawah administrasi partai demokrat?

Apakah ini artinya kemenangan kaum nasionalis melawan cabalis? Globalis yang mengontrol dunia di lawan oleh Taliban TIDAK PAKAI MASKER dan tidak menjalankan protokol kesehatan WHO faktanya  tidak ada covid di Taliban?!!!

Tentara uneducated bermodal nyali besar bisa mengalahkan Amerika?  Hal ini bisa jadi inspirasi bahwa kita bisa kalahkan siapapun kalau kita memutuskan jadi nasionalis sejati, membela bangsa dan negara.

Masih perlu asing bernegaranya? Demikian new mind bertanya

Kembali ke topik. Putin dan Trump adalah dua sahabat sejati, kekalahan trump dengan kecurangan KOTAK SUARA ala pakai kardus di gembok versi modern, membuat kaum nasionalis dunia main shadow tidak muncul di permukaan lagi. 

Kalah di Afghanistan, administrasi Biden tercoreng habis. Mereka kenyataannya di dalam negeri sedang ribut masalah Kamala Harris , lalu sekarang demokrat ditampar dengan hengkangnya Amerika kebirit-birit dari Kabul. Bukti lagi, Amerika tidak bisa mempertahankan aset minyak Afganistan yang besar karena lemahnya Biden.

Kita agaknya harus mengajari kaum oldmind bernegara internasional, yang memang tidak jago dan selalu salah di mata internasional karena memang jarang berkunjung ke negeri tetangga atau negeri sekutu lainnya. Memang selama 7 tahun ini diplomasi luar negeri lemah. Jarang sekali ngurusi luar negeri padahal 80% kita bergantung dengan luar negeri cara ekonominya dikelola.

Faktanya 80% ngurusi politik dalam negeri dan kebijakan yang diambil yang populis selalu. Yang 

rakyat suka itu dibuat keputusannya, bukan yang BENAR. Apa salah bernegara populis dan urus ini dalam negeri terutama politik? Yang tidak salah. 

Mana ada sih salah benar dalam politik, yang ada hanya fakta data dan angka, apakah ada makanan di piring  rakyat, apakah kesehatan rakyat membaik, apakah masyarakat bahagia penuh tawa?

Kita kembali ke luar negeri apa yang negara besar lakukan yang kita tidak lakukan karena tidak faham. 

Taliban menang. Presiden Ashraf Ghani kabur. Amerika dibully. 

Minggu sebelumnya, Amerika mengadakan pertemuan yang alot dengan negosiator Taliban di Doha. Menyertakan negara regional, Russia & tiongkok. Amerika memberikan ancaman kepada Taliban akan diperlakukan sebagai "pariah state" bila ambil kekuasaan dengan paksa. Pemerintah Afganistan  Ashraf Ghani menawarkan "sharing of power" sebagai imbalan gencatan senjata pada Taliban.

Ini ibarat menawarkan remis, namun Taliban tahu, Amerika dan Ashraf Ghani sudah kalah posisi. 

Taliban mempercepat proses take-over. Urban area & ibukota Kabul dikuasai. Pentagon kirim 3000 pasukan evakuasi. UK deploy 600 prajurit. Seribuan troops dipindahkan ke Qatar. Satu brigade dengan 4000 personil tempur siaga di Kuwait. In total, ada 8 ribu pasukan available di-deploy ke Afganistan bila situasi memburuk. Ternyata tidak action juga.

Tiongkok  paling untung. Setidaknya bisa mempengaruhi Taliban menyingkirkan Para militer Uighur. Koridor Wakhan akan menjadi penting sebagai geopolitical hotspot yang menghubungkan Tiongkok ke Asia Barat & Middle East. Ekstraksi mineral disepakati dalam pertemuan Taliban & China di Beijing beberapa minggu sebelum taliban menang. Eh dikira Tiongkok nggak main ya? 

Sekali lagi, inget nikel inget Tiongkok khan, ya itu ekstraksi mineral Afganistan untuk tiongkok, terlihat baik membantu tetapi aset disedot.

Ternyata kekuatan Amerika tidak berguna karena Taliban membiarkan Al Qaeda & ISIS berkembang di Afganistan. 

Sebagai catatan, dalam 5 tahun ini  Al-Qaeda dan ISIS-linked groups menjalar ke Afrika timur dan utara 

Pecahan grup ekstremis Taliban dan simpatisan, Al-Qaeda dan ISIS  saat ini ditemukan di semua negara Afrika sampai Philipina & Indonesia. 

Sungguh kemenangan Taliban di Afganistan menjadi booster bagi kelompok radikal di tempat lain. Sekaligus bukti "War on Terror" belum selesai. 

Pemerintah Nasionalis Indonesia di dalam negeri perlu mempercepat konsensus menghabisi gerakan pemahaman keras “far-right extremism” sebagai pekerjaan rumah kalau ingin aman kedepannya.

Di luar negeri, mainkan seperti Tiongkok, ambil benefit di air keruh, faham? Ngak? Yo wis, tunggu 

2024 kita praktekkan nanti. #peace

Related : EKSTRIMIS KANAN LUAR KALAHKAN AMERIKA.