Saat membahas masalah daging babi, kita selalu ingat tradisi kultur bangsa China. 

Daging babi adalah bahan makanan populer bagi masyarakat China, namun tidak demikian dengan sapi, kambing, atau hewan ternak lainnya. 

Ritual-ritual kepercayaan tradisional masyarakat China juga sering melibatkan daging babi sebagai persembahan. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan tradisi kultur masyarakat Timur Tengah. Mengapa begitu? 

Mengapa China tidak pernah mentabukan daging sapi seperti layaknya orang India, atau mentabukan daging babi seperti orang Timur Tengah?


Meski sebagian besar asal-usul tradisi masyarakat China di atas masih menjadi teka-teki hingga hari ini, tapi beberapa studi antropolog dan sejarawan setidaknya memberikan sedikit petunjuk.

Agar lebih memahami fungsi babi sebagai ketahanan pangan bagi masyarakat China, kita harus membandingkannya dengan posisi sapi di masyarakat India. Ada beberapa aspek perbandingan yang akan aku jabarkan di bawah. 

Pertama, pentabuan sapi tidak pernah terjadi di China sebab China memiliki area yang luas untuk menternak sapi. 

Area seperti ini disebut dengan istilah ‘non-arable area’, yaitu area yang tidak cocok digarap sebagai lahan pertanian namun cocok digunakan sebagai lahan peternakan. Sapi tidak perlu berkeliaran di desa-desa sebagai ‘scavenger’ layaknya di India. 

Di India, tanah pertanian mencapai 53%, sedangkan non-arable areanya hanya 2%, sisa wilayahnya digunakan untuk pemukiman. 

Mau tidak mau sapi harus “berkeliaran” di pemukiman dan memakan sampah di sekitar pemukiman itu. Pentabuan sapi dimaksudkan agar sapi yang berkeliaran itu tidak dibunuh sebagai bahan makanan dalam kondisi lapar. 

Hal yang sama tidak berlaku di China sebab China memiliki area peternakan sapi yang lebih luas. Sapi tidak berkeliaran di jalan-jalan pedesaan China. Tidak ada alasan yang kuat bagi masyarakat China untuk mensakralkan sapi.

Kedua, sistem irigasi di China pada zaman dahulu lebih baik daripada India. Di masa lalu, sekitar 40% lahan pertanian di China mendapatkan irigasi yang reguler sepanjang tahun, sedangkan di India, angka itu hanya 23%. 

Mayoritas lahan pertanian di India menggantungkan pasokan air dari hujan Monsoon. Pentabuan sapi tidak berkembang menjadi sebuah kompleks “cinta sapi” di China sebab ada atau tidaknya sapi tidak berdampak signifikan bagi masyarakat yang bisa bercocok tanam sepanjang tahun. 

Di samping itu, keledai, bagal, dan kerbau bisa menggantikan posisi sapi sebagai hewan pembajak dan transportasi di China. Meskipun demikian masyarakat di beberapa wilayah China, seperti misalnya Hunan, memiliki tradisi untuk menghindari daging sapi oleh karena alasan sapi sebagai hewan yang bermanfaat sebagai pembajak sawah. 

Mereka yang dibesarkan di dalam lingkungan keluarga keturunan Tionghoa pernah mendengar mengapa mereka menghindari makan sapi. 

Nenekku yang dulunya pernah bekerja sebagai petani di China hampir selalu menghindari makan daging sapi sebab menurut tradisi leluhur, sapi hidup jauh lebih bermanfaat sebagai pembajak sawah daripada berakhir di atas piring.

Namun pentabuan daging sapi ini tidak berkembang sekuat pentabuan daging sapi di masyarakat India oleh alasan yang aku sebutkan di atas. 

Ketiga, kalau di India sapi yang hidup berkeliaran sebagai ‘scavenger’ berperan penting sebagai mesin produksi susu, mentega, dan kotoran yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, bahan bakar memasak, dupa, serta, bahan lantai rumah, hewan apa yang menempati posisi itu di China? Babi. G. F. Sprague dari Departemen of Agronomy, University of Illinois, AS yang pernah mengunjungi China di tahun 1972 mengatakan bahwa jumlah babi di China saat itu ada sekitar 250-260 juta ekor.

 Jumlah itu empat kali lebih banyak daripada jumlah babi di AS. Kalau AS menternak babi sebanyak itu, maka AS akan mengalami krisis ketahanan pangan dalam waktu singkat, sebab di AS babi ternak diberi makan kedelai, jagung, vitamin, dan antibiotika. Semua bahan pakan itu bisa diberikan ke manusia alih-alih ke babi. 

Ongkos industri daging babi di AS sangat mahal. Hal yang sama tidak berlaku di China. 

Di China, peternakan babi berskala kecil dan dikelola oleh masing-masing keluarga besar bukan oleh perusahaan. 

Di China, industri daging babi adalah industri rumah tangga. Babi-babi itu diberi makan sisa-sisa makanan yang tidak bisa dimakan lagi oleh manusia seperti misalnya sayur busuk, nasi basi, kulit beras, atau eceng gondok. Babi mendaur ulang bahan makanan itu menjadi daging yang bisa menyuplai kebutuhan protein masyarakat China. 

Kalau sapi mendaur ulang sampah dan rerumputan di pemukiman menjadi pupuk dan energi untuk membajak lahan pertanian di India, babi mendaur ulang sisa makanan rumah menjadi daging di masyarakat China. 

Kedua fungsi ini sama-sama vitalnya. Tanpa pupuk dan hewan pembajak, produktivitas lahan pertanian di India dengan iklim Monsoon-nya menurun. 

Tanpa daging babi, kebutuhan asam amino esensial bagi masyarakat China menurun, lagipula masyarakat China tidak minum susu atau mengkonsumsi mentega dari sapi seperti layaknya masyarakat India. Tidak ada masakan tradisional China yang menggunakan susu atau mentega sapi.

Lihat saja perbandingan peta sebaran hewan ternak sapi dan babi di dunia. Sapi lebih banyak di India, sedangkan babi lebih banyak di China. Fungsi sapi sebagai mesin pendaur ulang di India digeser oleh babi di China, tapi karena nilai ekonomi babi diukur dari dagingnya, mensakralkan babi berarti menegasikan nilai ekonomi itu. 

Tapi mengapa masyarakat India memilih mengadopsi sapi sebagai hewan ‘scavenger’ dan bukan babi? Selain sapi lebih berguna digunakan sebagai penghasil susu, pupuk dan mesin pembajak sawah, sapi Zebu juga lebih cocok diternakkan di Iklim Monsoon yang panas dan kering. Babi tidak mudah dibiakkan di iklim seperti itu.

Di Uttar Pradesh, misalnya, sebagai wilayah penhasil bahan pangan terbesar di India, 88% curah hujan Monsoon hanya terkonsentrasi selama maksimal empat bulan berturut selama setahun, sedangkan sisanya didominasi cuaca yang panas dan kering, rata-rata mencapai hampir 40 derajat Celcius. Dalam kondisi lingkungan yang seperti itu, kerbau yang memerlukan banyak air juga tidak bisa hidup dan berkembang biak dengan baik, sementara keledai dan bagal tidak bisa mendaur ulang sampah dan rerumputan menjadi energi seefektif dan seefisien sapi. Terlebih lagi semua hewan itu tidak menghasilkan susu.

Inilah salah satu asalan mengapa bangsa China tidak pernah bisa menerima agama Timur Tengah yang mentabukan babi meskipun wilayah mereka berdekatan. Selama 1400 tahun sejak lahirnya agama Samawi yang mentabukan babi, hanya sekitar 2% penduduk China yang memeluknya. 

Babi adalah fondasi ketahanan pangan masyarakat China seperti layaknya sapi bagi masyarakat India. Mentabukan babi berarti merobohkan tiang penyangga ketahanan pangan itu dan mejerumuskan peradaban China ke dalam jurang kelaparan. Selama fungsi babi sebagai mesin pendaur ulang sampah menjadi bahan pangan di masyarakat China tidak tergeser, tuhan Samawi tidak akan disembah di sana. Sementara agama 

Buddha masih bisa diterima karena  nilai-nilai ajarannya tidak ada konflik dengan ketahanan pangan masyarakat China. China adalah negara dengan pemeluk agama Buddha terbanyak di dunia. Ada sekitar 18% penduduk China beragama Buddha, sembilan kali lipat pemeluk agama Samawi.

Hal yang sama juga terjadi di India. Masyarakat India sangat sulit untuk menerima agama Samawi yang mengorbankan sapi sebagai makanan. 

Konflik sektarian seperti ini terjadi berulang kali di sejarah masyarakat Hindustan sampai mencapai puncaknya saat mereka memisahkan diri menjadi Negara India dan Pakistan di tahun 1947. India berdiri sebagai negara sekuler dengan Hindu sebagai agama mayoritas, sedangkan Pakistan sebagai negara beragama Samawi.

Apakah sistem produksi pangan di dunia seperti sekarang ini bisa terus berlanjut? Apakah ‘lab-grown meat” bisa menjadi solusi bagi ketahanan pangan di masa depan?\\\

Related : Daging Babi yang haram dan ada yang halal.