Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lansia

Sewaktu saya mengunjungi satu desa di Pulau Viti Levu di Fiji, saya terlibat perbincangan dengan seorang lelaki lokal yang pernah mengunjungi Amerika Serikat dan memberitahu saya mengenai kesan-kesannya.

Ada beberapa ciri kehidupan Amerika yang dia kagumi, namun ada ciri-ciri lain yang membuatnya jijik. Yang paling parah adalah perlakuan kami terhadap orang lanjut usia (lansia).

Di pedesaan Fiji lansia menghabiskan waktu hidupnya di desa, dikelilingi para kerabat dan teman sampai akhir hayat mereka.

Mereka seringkali tinggal di rumah anak-anak mereka yang merawat mereka bahkan sampai mengunyahkan dan melunakkan makanan untuk mereka yang sudah tak punya gigi lagi.

Tapi di AS, teman Fiji saya murka melihat banyak orang lansia dikirimkan ke panti jompo.

Anak-anak mereka hanya sesekali saja menjenguk mereka. Teman saya ini menuduh saya, 

“Kalian telah membuang orang-orang lansia kalian dan orangtua kalian sendiri!””

Cerita di atas adalah sepenggal anekdot yang dikisahkan oleh Jared Diamond, seorang pakar biologi sekaligus antropologi dari AS ketika mengunjungi sebuah desa di Fiji. Apa yang terjadi di Fiji sebenarnya tidak hanya terjadi di sana, tapi juga terjadi di banyak negara Asia lain. Terlebih di negara yang masih tergolong negara berkembang. Para lansia tinggal serumah dengan anak-anak mereka dan mendapatkan perawatan dari anak mereka. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Asia pada umumnya terhadap orangtua mereka di usianya yang senja dianggap sebagai perwujudan dari nilai-nilai moral tentang penghormatan dan pengabdian anak terhadap orangtua yang melahirkan mereka. Di Eropa dan AS, para lansia itu dikirimkan oleh anaknya ke panti jompo. Mengapa mereka melakukan hal itu? Bukankah itu suatu bentuk penghinaan? Hanya anak durhaka yang memperlakukan orangtua seperti itu.

Tapi mari kita melihatnya dari sisi antropologi biologis. Perilaku kolektif masyarakat itu multidimensional. Kita tidak bisa menilainya semata dari sisi emosional atau nilai-nilai budaya lokal, tapi juga dari dimensi sosial yang dinamis. Aku tidak sedang melakukan pembenaran tentang apa yang dilakukan orang terhadap orangtuanya, pun juga tidak menyalahkan, tapi hanya berusaha menjabarkan alasan-alasan yang mendorong perubahan paradigma masyarakat, dalam hal ini tentang perlakuan terhadap lansia. 

Baca Juga: Asal-usul penghormatan lansia perspektif biologi-antropologis

Kita cenderung menilai bahwa tradisi nenek moyang kita adalah sesuatu yang bernilai luhur, sarat dengan ajaran-ajaran moralitas, sedangkan budaya kehidupan modern penuh dengan kebejadan, immoralitas, dan kecacatan cara berpikir. Padahal sebenarnya tidak demikian. Tradisi orang zaman dahulu tidak selalu bernilai luhur, demikian juga sebaliknya budaya modern tidak selalu bejad. Selayaknya kita tidak semestinya menilai apa yang dilakukan orang-orang di peradaban zaman dahulu dengan nilai-nilai moral modern, kita juga tidak semestinya menilai budaya modern dengan kacamata budaya zaman kuno. Apa yang terjadi di zaman dahulu merupakan jawaban kolektif masyarakat terhadap problema-problema kehidupan yang mereka hadapi di masanya disertai dengan segala keterbatasannya. Hal yang sama juga terjadi di kehidupan modern. Perilaku kita, cara pandang kita, sikap kita semua adalah jawaban kita terhadap problema-problema yang kita hadapi di dunia modern dengan segudang kelebihan dan kekurangan yang kita punya. 

Apakah benar bahwa masyarakat zaman dahulu selalu memperlakukan lansia dengan hormat? Budaya luhur mana yang Anda maksud? 

Tidak semua suku bangsa zaman kuno memperlakukan orangtua mereka dengan hormat. Beberapa malah cenderung sadis, kalau dinilai dengan standar moral dunia modern. Masyarakat primitif banyak yang membunuh para lansia mereka ketika dianggap sudah tidak lagi produktif. Mereka dianggap beban yang menyita produktivitas kelompok. Praktik seperti ini dikenal dengan istilah gerontisida. Praktik gerontisida secara pasif dilakukan oleh orang-orang Aborigin di Australia, suku Inuit di kutub utara, suku Hopi di Amerika utara, atau orang-orang Witoto di Amerika selatan. Mereka mengabaikan perawatan orang-orang lansia mereka sampai meninggal, memberi mereka hanya sedikit makanan, membiarkannya berkeliaran di dalam hutan sampai akhirnya celaka sendiri, atau membiarkannya berkubang kotoran mereka sendiri selama berhari-hari sampai mati. 

Orang-orang Saami di Skandinavia utara dan orang-orang San di gurun Kalahari meninggalkan para lansia mereka sendirian di hutan saat mereka berpindah kampung. Mereka ditinggalkan dengan sedikit makanan dan dibiarkan mati sendirian. Mereka yang diperlakukan demikian adalah mereka yang sudah terlalu lemah untuk berjalan dan tidak sanggup lagi protes. Orang-orang Chukchi dan Yakut di Siberia memiliki cara yang berbeda, alih-alih menelantarkan para lansia, mereka mendorong lansia untuk melakukan bunuh diri dengan melompat dari tebing, berlayar ke laut, mencekik atau menjerat leher mereka menggunakan seutas tali. Semua itu mereka lakukan atas persetujuan dari lansia sendiri.

Sementara orang-orang Indian Ache melakukan pembunuhan secara aktif di luar konsen lansia. Mereka membunuh orang-orang lansia dalam kelompok mereka dengan cara menenggelamkannya di sungai, menusuk mereka, menginjak-injak mereka sampai mati, atau menguburnya hidup-hidup.

Kita semua pasti merasa ngeri mendengar cerita-cerita di atas. Bagaimana masyarakat primitif bisa sedemikian tega melakukan hal-hal keji semacam itu. Namun, kita juga harus bertanya pada diri kita sendiri,

“Pilihan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang di kehidupan primitif yang hidup nomaden terhadap sekelompok orang lansia yang tidak lagi produktif ketika suplai makanan di lingkungan tempat tinggal mereka sangat terbatas?”

Beberapa suku primitif di kepulauan pasifik bahkan mempraktikkan kanibalisme terhadap para lansia mereka yang meninggal sebagai bentuk pernghormatan terakrhir. 

Apa yang Anda sendiri pilih untuk beritahukan kepada dokter kalau seandainya orangtua Anda berada dalam kondisi mati suri? 

Mencabut alat bantu kehidupannya untuk melepaskannya dari penderitaan atau melanjutkannya dengan konsekuensi biaya perawatan yang makin membengkak? 

Mereka yang berhak menilai adalah mereka yang berada dalam kondisi tersiksa yang sama karena dihadapkan pada dua keputusan yang sulit.

Namun sebaliknya, ada juga tradisi-tradisi masyarakat kuno yang begitu menghargai keberadaan lansia. 

Mereka menghomati mereka dengan cara memposisikan mereka sebagai tetua suku, kepala suku, dukun berobat, dukun beranak, atau sebagai guru yang bijak tempat para anggota masyarakat bertanya. 

Masyarakat seperti ini begitu menghormati eksistensi lansia seolah kehidupan mereka tidak mungkin ada dan berlanjut tanpa dukungan para lansia. 

Pertanyaannya adalah mengapa sebagian masyarakat memiliki solusi yang tampak sadis sementara yang lain memiliki solusi yang tampak lebih baik dari dimensi moral terhadap problem yang sama: apa yang harus dilakukan terhadap anggota kelompoknya yang sudah tidak produktif lagi?

Jawaban mengenai hal ini bisa sedikit memberikan jawaban mengapa di kehidupan modern, orang-orang mengirimkan lansia mereka ke panti jompo. 

Di negara-negara yang mengalami modernisasi dengan laju yang tinggi, jumlah panti jompo mereka meningkat pesat. Dari data penelitian menunjukkan bahwa jumlah panti jompo di China meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan modernisasi yang terjadi di sana.

Padahal kita tahu bahwa tradisi masyarakat China umumnya begitu menghargai orangtua mereka seperti layaknya tradisi masyarakat Fiji.

Jumlah panti jompo meningkat menjadi puluhan persen setiap tahun di China mengikuti arus modernisasi dan jumlah pertumbuhan populasi lansia.

Di tahun 2020, jumlah lansia (> 60 tahun) di China mencapai 255 juta orang, atau sekitar 17,8% dari total populasinya. Pertumbuhan lansia ini lebih cepat daripada laju kelahiran. 

Mengapa tradisi merawat lansia di rumah seolah tampak tidak kompatibel dengan kehidupan modern?