Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

INI GAME CHANGING!!!

Export Debt adalah kemahiran mumpuni dari seorang Entrepreneur dan kalau ada poem, pemimpin yang bernegaranya  memahami teknisk  entreprenurship di tambah memiliki jiwa nasionalis, secara perekonomian harusnya akan membuat negara indonesia makmur.

Tentunya dapat dipastikan pemimpinnya selain memiliki pemahaman entrepenurship juga  harus nasionalis dan tidak berhutang pada oligarki. Yang paling sulit memang untuk menang, tanpa kekuatan cuan, beraaattt. Karena itu banyak yang berhutang pada oligarki untuk cuan pemenangan dan sejak saat itu dia sudah tidak nasionalis lagi.


Fakta data, Yang punya  cuan ya oligarki. Makanya politikus dan pebajat tertinggi sulit menang tanpa dukungan finansial oligarki. Itu adalah FAKTA. Selama oligarki jadi bohir jadi sponsor maka rakyat selamanya akan jadi penonton dan jadi pasar!!!!

Saat ini para calon yang ada, semua nya adalah birokrat, tidak ada yang berangkat dari entrepenuer  nasionalis tanpa aliansi politik oligarki. Para birokrat itu menjadi terkenal karena pakai 

anggaran pemda dan pemerintah pusat. Pakai bayar wartawan dan orang media yang di bayari pakai pajak rakyat. Yang murni swasta tidak akan kuat duitnya untuk membuat acara peresmian peresmian.

Jadi menjadi birokrat bukan jalan satu satunya menjadi pemimpin negara. Harus di bukakan jalan lain, dari akses lain. Alternatif, misalnya begitu zero thresshold, beeeeh, pasti puluhan kontestannya. Dan ketika masuk top 5 barulah partai politik memetiknya.

Jadi adakan dulu konvensi nasional, non partai. Murni individu calon tersebut di panjang dulu di etalase. Duel konsep, duel visi misi, duel kapasitas dan kapabilitas, nah itu baru demokrasi pancasila aslinya.

Bagaimana kalau kita buat acara seperti itu, KPU yang mengadakan.  Semacam a acara pencari bakat, GOT TALENT ini judulnya indonesia’s GOT LEADER!!!

Dalam seleksi, semua orang bisa bergabung dan audience yang  memilihnya untuk masuk babak selanjutnya, sampai tersaring 10 besar. Ketika 10 

besar, ya di serahkan kembali ke partai politik, mana yang mau mereka usung.  Pastinya, tanpa partai mengusungpun, kandidat berhak maju!!!

Bagaimana sahabat muda?  Setuju? Ayo buat resolusi dan kerahkan kekuatan anda, ekspresikan ide ini demi indonesia berdaulat. Atau indonesia tetap jadi korban hutang.

Kita kembali ke export debt yang saya contohkan dari apa yang pebisnis biasa lakukan dan kali ini pengalaman pribadi saya.

Saya memiliki sebuah mesin pyrolisis untuk membuat oli bekas jadi bensin, solar atau MFO, di pasuruan jawa timur.  mesin ini saya beli dari eropa mesin bekas yang sudah di recondition.  Foir the shake of discusion katakanlah harga mesin ini 5 juta dolar atau sekitar 70 milyar rupiah.

Ini adalah peristiwa 10 tahun yang lalu. Saya meminjam dana 80% dari bank asing.  Ketika di tahun ke 4, kewajiban hutang tinggal 50%. 

Saya mencari mitra di Malaysia untuk membangun pabrik pyrolisis, di Malaysia banyak oli bekas yang mitra saya dapat kontrak nya buangan dari petronas.

Singkat cerita, saya bilang ke mitra saya, saya punya pabrik harga 6-7 juta dolaran, kalau mau kita pindahkan kemalaysia, mitra saya dapatr 80% saham, saya 20%, tanpa keluar modal dan tak lama mitra saya dapat pinjaman bank 80% dari nilai pabrik.

Pabrik itu masih jalan sekarang namun kapasitasnya hanya tinggal 40%, hasusnya sih sudah di amortisasi, sudah nol nilainya.b

Intinya, hutang saya dengan jaminan pabrik di pasuruan lunas  pada bank lunas plus profit, masih punya 20% saham di Malaysia, yang berhutang mitra di Malaysia. Itulah yang di namakan ekspor debt yang banyak dilakukan oleh pengusaha daru negeri kakak tertua yang jadi pujaan banyak pejabat di sebuah negara.

Ok, cerita pyrolisis adalah kisah nyata, mudah mudahan sahabat semua  jangan sampai membayangkan ada pabrik di Sulawesi atau ada proyek  yang banyak di Indonesia semodel begini yang bernama eksport debt, TIDAK ADA ITU, 

 pengusahanya merangkap pejabat semuanya pinter, tidak opurtunis mumpung njabat , juga  tak berhutang pada oligarki dan pasti nasionalis #peace