Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KEJUJURAN ADALAH KEBUTUHAN MANUSIA YANG UTAMA

Kejujuran adalah pondasi dari kehidupan manusia. Kejujuran bagi seorang entrepreneur adalah suatu bangunan yang saling memperkuat dan tak terpisahkan.

Bahkan seorang nabi besar Muhammad dikenal jujurnya terlebih dahulu yang disebut sebagai al Amin (yang terjujur) baru keyakinan berketuhanannya (Islam - berserah diri).

Dengan landasan kejujuran (honesty), ini menumbuhkan kepercayaan (trust) dari masyarakat dan lingkungannya serta alam sekitarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita harus bermanis lidah di dalam berjualan, baik sebagai lobbies atau sebagai sales, hal tersebut biasa dan wajar, terkadang anda menambahkan bumbu sedikit biar pas, namun banyak yang memberi bumbunya berlebihan sehingga rasanya terlalu gurih menjadikan rasa makanan enek di perut.

Begitu juga jika kita terlalu berlebihnya menjual produk kita, rasanya enek. Pasti ada dusta di sana. Sebagai entrepreneur mengatakan hal yang berlebihan tersebut disebut OVER Promises atau kelebihan janji sehingga yang sering terjadi adalah Under Deliver, gagal janji.








Hal ini akan banyak menimbulkan kekecewaan pelanggan yang akan mengakibatkan bangkrutnya sebuah usaha. Dalam bisnis ada dusta yang dikatakan, namun ada juga dusta yang tidak dikatakan tetapi dilakukan juga.

Anda pernah ke Jogja akhir-akhir ini?

Kalau anda ke Jogja maka sebuah pengalaman yang ingin dirasakan di sana adalah merasakan nikmatannya makan sambil duduk bersandar di warung tanpa bangku yang biasa disebut dengan lesehan.

Sebuah keunikan terbayang dan dirasakan oleh setiap pelancong yang datang ke sana dan namun coba diperhatikan adakah orang asli Jogja yang menikmati santap di tempat lesehan tersebut? Dari ayam goreng lesehan, Gudeg lesehan atau lesehan lainnya rasanya tidak ada orang Jogjanya.

Dalam sekejab anda dapat menemukan jawabannya ketika “bon tagihan” makan anda dilampirkan, anda akan menelan ludah dan mengatur intonasi suara karena harga tersebut sama dengan anda makan disebuah restoran mewah nyaman dengan suasana cozy, bukan senderan di pinggir toko kayak gitu. Anda seketika itu juga merasa didustai.

Persepsi kita sebelumnya adalah harga makanan kaki lima tersebut di Malioboro harusnya tidak mahal-mahal amat. Yang ada di kepala penjajanya adalah, rumus aji mumpung, nggetok dompet pelancong, toh mereka belum tentu datang lagi, atau kalaupun datang waktunya lama lagi. Jadi ini menjadi sebuah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat.

Para penjaja itu keliru!

Dalam jangka pendek mungkin benar mereka mendapat keuntungan namun dalam jangka panjang berita dari mulut ke mulut pasti akan mencapai ke setiap kuping pelancong lainnya sehingga pasti mereka akan menghindari makan di lesehan malioboro. Dan itu terbukti dengan tidak adanya orang Jogja yang makan di sana atau sedikitnya orang yang makan sekarang. Ini adalah buat sebuah kedustaan yang tidak diucapkan. Dan menurut saya seuatu saat tempat eksotik lesehan jogja tersebut akan hilang.

Lain halnya dengan sebuah warung tegal di daerah industri Cikarang yang pernah saya singgahi. Warung ini selalu saya kunjungi kalau saya sedang mengadakan workshop di bilangan komplek industry Jababeka.

Dengan sebuah piring dengan nasi penuh kita ambil sendiri dan makanan yang kita makan. Lauk bermacam-macam ada di meja tengah, bergilir dan mengantri orang-orang mengambil makanan tersebut. Kemudian jika telah selesai makan kita membayar cukup dengan menyebut makanan apa yang tadi kita ambil sendiri.

Takaran, kita yang atur sendiri, kemudian mereka menghitung singkat. Jika ada pertanyaan lain kepada pelanggan, “Minumnya tadi apa pak?”, es jeruk atau es teh manis?”. Kemudian sang kasir berkata, “sebelas ribu rupiah pak”. Cukup mencengangkan, ambil sesukanya, makan sesukanya, sebelas ribu perak?.

Di tempat ini saya merasa bahwa uang yang saya bayarkan adalah terlalu sedikit alias tidak wajar atau melampaui espektasi saya. Setelah itu saya menjadi juru kampanye iklan gratis bagi warung tegal Cikarang tersebut. Karena saya berkoar koar cerita dahsyatnya dan murahnya makanan di warteg tersebut. Saya ceritakan pengalaman saya dan saya yakin teman-teman lainpun melakukan hal yang sama.

Karena setelah menikmati makan di warteg tersebut dan merasakan harga yang di bawah maka semua orang menjadi pengiklan gratis bagi mereka. Itu semua di peroleh dari pelanggan yang terpuaskan. Dan faktanya bisnis mereka tumbuh luar biasa pesatnya.