Interpretasi datanya kurang tepat ini. "Literacy" itu mengacu pada angka "melek huruf", bukan minat baca. Kalau minat baca semata diwakili oleh angka melek huruf maka semua orang yang bisa baca tulis dianggap suka membaca buku. Kenyataannya kan tidak demikian. 


Orang bisa baca tulis dengan lancar namun tetap sama dungunya dengan mereka yang buta huruf karena malas membaca atau, di era informasi ini, membaca buku yang salah.

Alat ukur yang lebih representatif tentunya adalah banyaknya buku yang dibeli atau diaku dibaca sampai selesai per satuan waktu, atau berapa banyak waktu yang diluangkan untuk membaca buku per satuan waktunya. 

Ini salah satu contoh penggunaan statistik secara keliru untuk membuat sensasi atau yang lebih ironis, pihak yang membuat berita ini tampaknya tidak memahami cara membaca data.


 Sumber: Hendy Wijaya

Related : Minat Baca Indonesia.