Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rasionalitas dan Radikalisme

Membaca berita seorang dokter terduga teroris mati tertembak, ada yang bertanya padaku mengapa seorang dokter bisa terjerumus ke dalam radikalisme? Bukankah orang bisa menjadi dokter itu adalah orang-orang yang cerdas dan rasional? Mengapa orang cerdas bisa menjadi korban proses cuci otak kaum relijius puritan? 

Ada hasil studi menarik tentang hal ini yang dilakukan oleh Marjaana Lindeman, seorang profesor psikologi dari University of Helsinki, Finlandia. Ia menemukan bahwa dalam hal kemampuan bernalar, otak memilki dua sistem pengolahan data yang terpisah.


Satu sistem bersifat rasio-analitikal, sedangkan yang lain bersifat intuitif-emosional. Sistem penalaran rasio-analitikal adalah hasil proses pembelajaran menahun. Sistem ini bekerja lebih lama, menguras energi dan waktu.

Sementara sistem yang bersifat intuitif-emosional adalah sistem penalaran bawaan manusia sejak lahir. Secara evolusi sistem penalaran intuitif-emosional ini penting digunakan untuk bertahan hidup di dalam hutan belantara dan berinteraksi sosial. Kita memerlukan intuisi dan emosi untuk membangun komunitas sosial yang rekat.

Tapi sistem ini pula lah yang membuat nalar manusia mudah terjatuh pada pemikiran-pemikiran supranatural macam antropomorfisme dan esensialisme. Spontanitas otak untuk melekatkan segala atribut mental, seperti intensi, emosi kepada benda-benda di sekitar mereka melahirkan antropomorfisme. 

Pemikiran bahwa segala benda-benda di sekitar unik seperti layaknya individu manusia, membuatnya mudah terjerumus ke dalam esensialisme. Baik antropomorfisme dan esensialisme adalah program mental bawaan otak yang kompatibel dengan konsep-konsep supranatural relijius. 

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lindeman terhadap lebih dari tiga ribu subyeknya, ia menyimpulkan bahwa kedua sistem penalaran dalam otak ini bisa bekerja independen satu sama lain.

Atau dengan kata lain, seseorang bisa saja memiliki literasi akademis yang tinggi, kecerdasan yang mumpuni, tapi sekaligus percaya akan kesaktian Ponari dan Kanjeng Dimas. Rasionalitas dan keyakinan supranatural dapat eksis berdampingan dalam satu benak individuil yang sama. 

Sekadar Anda tahu, subyek Lindeman adalah para pelajar di FInlandia. Kendati Finlandia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk ateis yang sangat besar di dunia, studi ilmiah berskala besar Lindeman membuktikan bahwa orang-orang terdidik tidak semata bisa digolongkan ke dalam kaum rasional.