Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sunda Empire, Kultus Kargo, dan Sejarah Kelahiran Agama Militerisme-Mesianik

Apa itu kultus kargo? Kultus kargo adalah agama masyarakat Melanesia, kepulauan di Pasifik Selatan, yang meyakini bahwa ritual-ritual relijius tertentu dapat mendatangkan kiriman berbagai macam barang berteknologi tinggi, seperti misalnya peralatan elektronik, makanan kaleng, minuman bersoda, pakaian modern, perkakas modern, dan lain-lain, yang dikirim menggunakan kargo, bisa melalui udara atau laut.

Barang-barang yang dipercaya oleh para penduduk Melanesia bakal membawa kesejahteraan kepada semua orang sehingga mereka tidak perlu lagi bekerja keras.

Ritual-ritual relijius yang dimaksud adalah seperti membangun landasan pacu pesawat terbang lengkap dengan menara kontrol dan radarnya yang terbuat dari bambu atau kayu, pesawat-pesawatan dari kayu guna memancing pesawat pembawa kargo untuk mendarat di sana. Para penganut Kultus Kargo ini dipimpin oleh seorang pemuka ibarat nabi.

Tugasnya menyampaikan pesan dari sosok ilahiah si pengendali pesawat dan kapal laut yang membawa kargo tentang kapan mereka bakal datang membawa kargo-kargo berisi semua barang-barang canggih itu. Si pemuka Kultus Kargo berkomunikasi dengan sosok ilahiah ini melalui medium ‘radio’ berupa seorang cenayang di dalam replika menara radio dari kayu. 

Awalnya, kultus ini muncul sebagai akibat bertemunya masyarakat primitif kepulauan Pasifik dengan masyarakat Eropa dengan teknologi majunya. Masyarakat primitif yang seumur-umur belum pernah melihat pesawat terbang atau kapal laut besar-besar wajar menjadi tercengang dan menganggap mereka yang turun dari pesawat dan kapal adalah semacam dewa. Demikian juga semua barang yang mereka bawa adalah benda-benda surgawi. 

Menurut catatan sejarah, kontak semacam itu pernah terjadi berulang kali dalam sejarah dimulai dari akhr abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kontak yang intensif terjadi lagi saat perang dunia ke-2. Saat itu banyak kapal perang Jepang, Australia, dan AS berlabuh di kepulauan Pasifik. Para tentara Jepang, Australia, dan Amerika silih berganti berkontak dengan penduduk lokal, memanfaatkan ketidaktahuan mereka demi kepentingan sepihak.

Bangsa Jepang yang menguasai kepulauan Melanesia pada tahun 1942 misalnya, membujuk penduduk setempat untuk bekerja membantu mereka mengusir tentara Australia dan Amerika. Tentara Jepang menyuap mereka dengan berbagai barang canggih dari kargo dan makanan ‘surgawi’ (padahal makanan kaleng biasa).

Tentara Jepang juga berjanji kelak penduduk lokal akan mendapat kiriman kargo berlimpah dari Jepang kalau mereka berkuasa. Setelah Jepang terusir, giliran tentara Amerika yang kembali memperalat mereka. Tentara AS membujuk penduduk lokal untuk bekerja bersama mereka mengusir tentara Jepang dan kembali berjanji akan membuka rahasia cara mendatangkan Kargo berisi barang-barang canggih dan makanan kaleng kepada penduduk lokal. 

Penduduk lokal yang terus-menerus ditipu, diperalat, dan ditindas akhirnya jengah. Mereka membuat menara radio sendiri dari kayu lalu berusaha meniru ritual-ritual ‘pemanggilan’ pesawat atau kapal pembawa kargo melalui sang ‘radio’. Tak hanya itu, mereka juga membentuk milisi sendiri dengan menenteng replika senapan dari kayu sebagai bentuk perlawanan para penindas dan penjajah. 

Di akhir tahun 1940-an seusai Perang Dunia ke-2, para penganut Kultus Kargo percaya bahwa ada sosok ilahiah berseragam tentara AS yang mereka sebut John Frum. Mereka percaya Frum adalah Raja Amerika yang berjanji akan datang kembali ke tanah Melanesia membawa segudang Kargo pembawa kesejahteraan berlimpah sehingga tak seorangpun perlu bekerja keras lagi di ladang. Tidak ada yang tahu pasti siapa Frum.

Komunikasi antara Frum dan penganut Kultus Kargo hanya dilakukan melalui perantara pemuka Kultus Kargo di menara radioa replikanya. Hanya orang-orang terpilih yang bisa berkomunikasi dengan Frum.

Pada tahun 1950-an, David Attenborough berlayar ke Tanna dengan seorang juru kamera, Geoffrey Mulligan, untuk menginvestigasikan kultus Kargo. Mereka menemukan banyak bukti mengenai kultus atau agama tersebut dan akhirnya diperkenalkan dengan imam besarnya, seorang bernama Nambas. Nambas menyebut ‘mesias’nya secara akrab dengan panggilan John, dan mengklaim dapat berbicara dengannya secara berkala, melalui ‘radio’.

Radio tersebut adalah seorang perempuan tua yang mengenakan ikat pinggang dari kabel listrik. Perempuan itu akan kesurupan dan berbicara tidak jelas, yang ditafsir Nambas sebagai kata-kata dari John Frum. Nambas mengklaim bahwa dia sudah tahu terlebih dahulu bahwa Attenborough akan mengunjunginya, karena John Frum sudah memberitahukannya lewat ‘radio’nya. Mereka percaya bahwa John Frum akan datang kembali ke tanah 

Melanesia pada tanggal 15 Februari, tapi tidak tahu kapan tahun pastinya, jadi setiap tanggal 15 Februari mereka melakukan ritual penyambutan. Saat Attenborough datang ke sana, 19 tahun telah berlalu sejak kepergian Frum namun tanda-tanda kedatangannya belum juga tampak. Attenborough berkata kepada Sam, salah seorang penganut Kultus Kargo,‘

“Tetapi, Sam, 19 tahun berlalu sejak terakhir John berkata bahwa kargo akan datang. Dia terus berjanji, namun tetap saja kargonya tidak datang. Bukankah 19 tahun itu waktu yang lama untuk menunggu?”

Sam mengangkat matanya menatap Attenborough. “Jika kau dan bangsamu bisa menanti dua ribu tahun untuk kedatangan Sang Mesias namun toh dia tak kunjung datang pula, apalah artinya penantian 19 tahun bagi kedatangan John Frum?”

Kultus Kargo adalah sebuah fenomena yang muncul akibat penindasan dan kesenjangan sosial antara elit politik dan rakyatnya. Masyarakat Melanesia jenuh selalu menjadi bulan-bulanan penjajah dan elit politiknya. Kultus Kargo muncul sebagai simbol perlawanan masyarakat terhadap keserakahan penguasa berbalur dengan ide-ide naluriah supranatural manusia. 

Beberapa pakar antropologi mengusulkan bahwa proses yang sama mendasari lahirnya agama militerisme-mesianik khas timur tengah beribu tahun silam. 

Agama yang awalnya muncul sebagai sebuah gerakan politik melawan penjajahan dan penindasan bertubi-tubi yang dialami orang-orang Yahudi (sebab mereka tinggal di jalur persimpangan peradaban-peradaban besar, yaitu Bangsa Mesir di barat dan Bangsa Sumeria di timur, belakangan Bangsa Romawi di Utara) berakhir menjadi agama spiritualistik yang kehilangan dimensi politiknya seiring perkembangannya.

Membangun kerajaan di area persimpangan semacam itu ibarat membangun rumah di tengah jalan tol. Di tengah ketidakberdayaan itu, ide-ide tentang perlawanan yang dibalur dengan cerita-cerita supranatural adalah satu-satunya pil penawar kepahitan.